Kamis, 09 Desember 2010

HUBUNGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN EKOSISTEM PESISIR


            Lingkungan pesisir merupakan lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh pencampuran massa air laut dan air sungai terutama didaerah perairan estuaria.  Sungai-sungai membawa materi-materi yang berasal dari daratan yang merupakan hasil kegiatan alamiah maupun kegiatan manusia yang bermuara di perairan estuaria.  Sekarang ini salah satu penyebab terjadinya degradasi ekosistem estuaria adalah akibat penggunaannya sebagai daerah pembuangan limbah secara terus menerus (Lestari dkk., 2006).
            Penggunaan daerah estuary sebagai tempat pembuangan limbah secara tidak langsung mengakibatkan rusaknya ekosistem di daerah pesisir. Salah satu ekosistem yang terdapat di daerah pesisir tempat hidup banyak biota laut adalah ekosistem terumbu karang.  Menurut Ministery of State for Environment (1996)(dalam Supriharyono, 2000) dari luas terumbu karang yang ada di Indonesia sekitar 50.000 km2 diperkirakan hanya 7% terumbu karang yang kondisinya sangat baik, 33% baik, 46% rusak dan 15% lainnya kondisinya sudah kritis.  Kerusakan terumbu karang tersebut dipastikan sebagai akibat aktivitas manusia yang secara langsung dan tidak langsung, sengaja atau tidak tanpa memperhitungkan dampak negatif yang mungkin ditimbulkannya.
            Stoddart (1969) (dalam Supriharyono, 2000) mengatakan secara biologis terumbu karang merupakan ekosistem yang paling produktif di perairan tropis dan bahkan mungkin di seluruh ekosistem baik di laut maupun di daratan karena kemampuan terumbu karang untuk menahan nutrient dalam sistem dan berperan sebagai kolam untuk menampung segala masukan dari luar.  Selain itu terumbu karang yang sehat memiliki keragaman spesies penghuninya dan ikan merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak.  Tingginya produktivitas primer di perairan terumbu karang memungkinkan perairan ini sering merupakan tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground) dan mencari makan (feeding ground) dari kebanyakan ikan (Abubakar, 2001).  Oleh karena itu secara otomatis produksi ikan di daerah terumbu karang sangat tinggi. Oleh karena itu jika terdapat banyak pencemar di dalam ekosistem terumbu karang menyebabkan biota yang ada di dalamnya akan terkena racun dan mengakibatkan keanekaragaman hayati di ekosistem tersebut berkurang.  Berikut adalah beberapa contoh kegiatan yang merusak ekosistem terumbu karang.
No.
Kegiatan
Dampak potensial
1.
Penambangan karang dengan atau tanpa bahan peledak
Perusakan habitat dan kematian masal hewan terumbu
2.
Pembuangan limbah panas
Meningkatnya suhu air 5-10oC di atas suhu ambien, dapat mematikan karang dan biota lainnya.
3.
Pengundulan hutan di lahan atas
Sedimen hasil erosi dapat mencapai terumbu karang di sekitar muara sungai, sehingga mengakibatkan kekeruhan yang menghambat difusi oksigen  ke dalam polib.
4.
Pengerukan di sekitar terumbu karang
Meningkatnya kekeruhan yang mengganggu pertumbuhan karang.
5.
Kepariwisataan
·         Peningkatan suhu air karena buangan air pendingin dari pembangkit listrik perhotelan
·         Pencemaran limbah manusia yang dapat menyebabkan eutrofikasi.
·         Kerusakan fisik karang karena jangkar kapal
·         Rusaknya karang oleh penyelam.
·         Koleksi dan keanekaragaman biota karang menurun.
6.
Penangkapan ikan hias dengan menggunakan bahan beracun (misalnya Kalium Sianida)
Mengakibatkan ikan pingsan, memati-kan karang dan biota avertebrata.
7.
Penangkapan ikan dengan ba-han peledak
Mematikan ikan tanpa dikriminasi, karang dan biota avertebrata yang tidak bercangkang.
Tabel 1 : Dampak Kegiatan Manusia pada Ekosistem Terumbu Karang
[Sumber : Abubakar, 2001]

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar.2001. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Melalui Pendekatan Agribisnis dan Agro-Industri Dala Upaya Penanggulangan Kerusakan Terumbukarang. Program Pasca Sarjana S3. IPB. 10 hlm.

Lestari, Manik, J.M. & Rozak, A. 2006. Kualitas perairan teluk klabat di tinjau dari aspek logam berat. Seminar Nasional Tahunan Hasil-Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, Universitas Brawidjaja. 12 hlm.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 247 hlm.









  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar